Oleh : Emha Ainun Nadjib (“Indonesia Bagian Dari Desa Saya”/Bentang/PadhangmBulanNetDok) Artikel ini merupkan artikel lama, sudah lebih 3 tahun mengendap dalam milis saya. sudah banyak blogger yang mencantumkan dalam blognya, tetapi karena patut untut kembali dibaca-baca, maka saya muat kembali. Karena akan menerima tamu dari Thailand, maka Kiai itu merasa harus menyuguhkan Jawa. Segala yang nampak pada Pondok Pesantren yang dipimpinnya, sebenarnya relatif sudah mengekspresikan tradisional Jawa. Potret desa, model-model bangunan dan irama kehidupannya. Sang tamu besok mungkin akan mendengarkan para santri berbincang dalam bahasa Arab atau Inggris. Tapi itu bukan masalahnya. Yang penting Kiai kita ini tidak akan mungkin menyediakan Coca Cola ke depan hidung tamunya dari tanah Thai itu. Demikianlah akhirnya sekalian santriyah yang tergabung dalam Qismul Mathbah (Departemen Dapur) bertugas memasak berbagai variasi menu Jawa. Dari sarapan grontol, makan siang nasi brongkos, malam gud...