Langsung ke konten utama

Kecanduan Facebook (Facebook Addiction Disorder/FAD) atau Jejaring Sosial Lainnya


Pagi hari itu, merupakan hari libur.  Seorang istri dan seorang suami sama-sama menghadap laptop-nya. Sama-sama asyik dengan dunianya, lama tanpa suara, juga tidak bertegur sapa. Terkadang si istri tersenyum-senyum sendiri, demikian juga sang suami.


Itulah gambaran (mungkin terlalu lebay), menyikapi fenomena sosial yang terjadi. Kecanduan jejaring sosial, twitter, facebook, MySpace dsb menjangkiti semua kalangan. Bahkan OB dikantor kita pun sering duduk mojok sambil senyum-senyum memandang hp-nya. Rupanya dia sedang chatting dan ber-FB ria. Perhatikan juga pada jam2 saat makan siang, di food-court, rumah makan, restoran, bahkan di halte bus.

Memang, situs jejaring sosial itu, kini, memunculkan sejumlah dampak negatif, salah satunya adalah menimbulkan kecanduan, bahkan membuat terjadinya penyimpangan perilaku yang dikenal dengan FAD (Facebook Addiction Disorder).

Pengguna situs jejaring sosial dari hari ke hari semakin meningkat jumlahnya. Menurut data statistik yang dilansir CheckFacebook.com pada Juni 2009, jumlah pengunjung situs Facebook di Indonesia telah mencapai 10 besar jumlah pengguna di seluruh dunia. Indonesia betengger di peringkat ke-7.  Dan pada saat tulisan ini dipublish (Februari 2011)  Indonesia telah menempati peringkat ke-2 dengan user aktif mencapai 34,5 juta (wuih, jadi Runner-up tingkat dunia nih).

Daftar ururan penggguna FB per Februari 2011 (sumber: checkfacebook.com)
1.       United States,                                    148,867,700
2.       Indonesia                       34,498,920
3.       United Kingdom                                  28,268,080
4.       Turkey                           26,066,320
5.       Philippines                                           22,316,340
6.       India                              21,296,220
7.       France                                                 20,540,560
8.       Mexico                          20,221,700
9.       Italy                                                     17,997,800
10.   Canada                          16,841,560

FAD merupakan bagian dari kecanduan internet (internet addiction). Walau belum ada dalam kamus psikologi, American Psychiatryc Association berencana memasukkan kecanduan ini  ke Diagnostic and Stastitical Manual of Mental Disorder edisi ke lima, yang rencananya dirilis pada 2012.

Untuk mengetahui sesorang terkena Kecanduan Jejaring Sosial, cukup dengan melihat gejala-gejala sebagai berikut,
1.    Makin meningkatnya kebutuhan waktu untuk mengakses situs jejaring sosial demi untuk mencapaai kepuasan diri lewat aktivitas mengunggah foto pribadi, menulis status serta komentar, berbincang (chatting) maupun menulis blog (blogging).
2.      Merasa gelisah, stress, merasa ada sesuatu yang kurang serta tidak nyaman manakala tidak membuka situs jejaring sosial.
3.      Aktivitas2 rekreasional dan sosial semakin terkurangi dan atau beralih ke situs jejaring sosial. Misalnya, ketimbang menelepon kawan kita untuk memastikan janji itu lewat situs jejaaring sosial.
4.      Ketika kita bertemu orang lain, selain kita memperkenalkan diri, kita juga menanyakan alamat situs jejaring sosial orang bersangkutan.

Berhati-hatilah terhadap apa yang anda tulis di situs jejaring sosial. Pasalnya, sekitar 18 persen dari 1.600 anggota Akademi Pengacara Perkawinan Amerika (AAML) mengatakan dalam lima tahun terakhir ini jumlah kasus perceraian meningkat gara-gara aktivitas seseorang dibeberapa situs seperti facebook, MySpace, dan twitter.

Ironisnya, saat ini belum ada program internet yang ditujukan untuk membantu penyembuhan mereka yang kecanduan situs jejaring sosial. Bahkan, dua negara dengan populasi online terbanyak Amerika dan China, harus membuka klinik terapi penyembuhan kecanduan internet. DI AS pada Juli 2009, dibuka program untuk rehabilitasi kecanduan internet. Program selama 45 hari ini dibanderol US$ 14.500 atau setara dengan Rp. 13 juta.

Oleh karena itu, sebelum kita terjangkit virus jejaring sosial ini, sebaiknya kita mulai membatasi waktu online, agar sesuai dengan tujuan awal mengikuti  situs tersebut.

Nah, apakah Anda termasuk dalam orang yang hidupnya mulai dikendalikan facebook dan mengalami FAD? Simak 10 tanda berikut ini (http://female.kompas.com/).

  1. Facebook telah menjadi homepage internet di komputer atau laptop Anda. 
  2. Anda mengubah status lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman. 
  3. Daftar teman Anda sudah melebihi angka 500 orang dan setengahnya hampir tidak dikenal.
  4. Bila sedang jauh dari komputer, Anda mencek facebook melalui BlackBerry, iPhone, atau ponsel pintar lainnya.
  5. Rajin membaca profil teman lebih dari dua kali sehari, meski ia tidak mengirimkan pesan atau men-tag Anda di fotonya.
  6. Anda mengubah profile foto lebih dari 12 kali.
  7. Anda membaca artikel ini sambil mencek facebook.
  8. Anda membersihkan "wall" agar terlihat sudah lama tidak masuk ke fb.
  9. Anda menjadi anggota lebih dari 10 grup dan merespons setiap undangan meski sebenarnya tak berminat.
  10. Anda mengubah status hubungan hanya untuk meningkatkan popularitas di facebook.
Setelah membaca artikel diatas anda pasti sadah mempunyai jawaban, apakah dalam kategori kecanduan?


Sumber bacaan:
Majalah FASE, Vol. 2, Juli-September 2010, RSUP Fatmawati.

Komentar

  1. Haha, funny picture! You amused me. The morning of my younger sister looks about term essay the same

    BalasHapus

Posting Komentar

Pembaca yang BUDIMAN, Sudilah kiranya Anda meninggalkan pesan/komentar terkait artikel yang Anda baca, atau mengenai Blog ini. Terima kasih dan Salam Takzim.

Postingan populer dari blog ini

15 Tip Bagaimana Menjadi Pemikir yang Brilian

Pada artikel sebelumnya, b ertitik tolak dari pemahaman bidang neurologi dan psikologi, Dr. Richard Restak mengemukakan 28 cara melatih otak agar kinerja otak tetap cemerlang, tidak mengalami atrofi alias penciutan sirkuit otak, tidak mudah lupa, dan semakin kreatif. Dalam bukunya “Smart and Smarter: Cara Melatih Otak Agar Kita Menjadi Lebih Pintar dan tetap Pintar” . Ke 28 cara tersebut dapat Anda baca disini . Pada artikel ini, MSB kemukakan pemikiran Dr, Paul Sloane. D alam bukunya How to be a Brilliant Thinker: Exercise Your Mind and Find Creative Solutions , Paul Sloane telah membuat sebuah buku panduan yang amat komprehensif tentang seni berpikir, yang menghindari kesalahan dari banyak buku serupa yang ditulis penulis lainnya. Di satu sisi, memuat sejumlah teori, di sisi lain dan barangkali hal ini lebih penting lagi, buku ini dilengkapi dengan saran-saran praktis dan contoh-contoh nyata tentang bagaimana para pemikir hebat, sekalipun berasal dari kelas orang kebanyaka...

Konsumsi BBM Beberapa Jenis Mobil

Mendengar, membaca, menyaksikan obrolan, rumor dan sanggahan terkait jadi tidaknya diberlakukan kebijakan BBM non-subsidi, membuat rakyat semakin jengah. Terkesan kebijakan ini tidak cermat, tidak dikaji secara mendalam.  Mungkin dibenak pemerintah, jalankan dulu kebijakan, toh rakyat (baca: masyarakat) akan pasrah dan akhirnya akan menerima paksaan ini. Akupun lantas mimpi mempunyai kendaraan yang irit BBM. Kalau disuruh beli Hybrid tentu aku langsung ngibrit, daripada seperti orang mimpi di siang bolong, pilih yang bekaspun asal irit. Apatah lagi "Sang Ahli" belum bisa membuat kebijakan untuk mengurai kemacetan yang semakin kusut. Akhirnya kembali kepada kita pengguna kendaraan bermotor untuk menggunakan kendaraan secara smart dan bijaksana. Bagi yang baru mau beli atau ganti kendaraan, berikut saya berikan konsumsi BBM beberapa jenis mobil, yang saya comot dari forum di kaskus.us.

Kontradiksi Penelitian Tentang Orang Kaya

Apakah Anda orang kaya atau miskin? Bagaimana cara mengukur diri Anda, masuk kategori orang kaya atau miskin? Siapa orang kaya yang sebenarnya? Apakah orang kaya itu mereka yang gemar membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang mahal? Seseorang yang sukses secara finansial biasanya memiliki pemikiran, omongan, sikap dan perbuatan yang serupa karakteristiknya. Hal-hal tersebutlah yang justru menjadikan seseorang menjadi kaya. Kekayaan yang mereka dapatkan tidak turun begitu saja dari langit. Namun, kekayaan tersebut merupakan buah dari apa yang sudah mereka perjuangkan selama ini. Mereka bisa menjadi kaya karena memiliki pikiran, kebiasaan, sikap dan perilaku yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak sukses secara finansial. Tapi benarkah demikian? Berikut MSB sajikan tiga penelitian -yang mungkin saling kontradiktif satu dengan yang lain- tentang gaya hidup orang kaya.