Kamis, 05 Mei 2011

Masalah adalah HADIAH

[baguse-rek] ~ Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya. Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat keberhasilan di balik setiap masalah.

Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang Iebih tinggi. Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda. Tanpa masalah, anda tak Iayak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.

Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. Sesaat kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak kan menjadi seseorang yang sejati.
 Jenis Hambatan
Menurut Robert B. Stone, paling tidak terdapat lima hambatan yang selalu membuat kita sulit meraih sukses (sumber):


1.       Kegelisahan dan kecemasan.

Hal ini menyebabkan ketegangan dalam badan. Koordinasi otot dan efisiensi mental dapat dipengaruhi oleh keadaan ini. Kesehatan kita pun jadi ikut terganggu, dan biasanya sistem pencernaan kita terkena dampaknya paling awal. Gejala lainnya juga berkisar pada sakit kepala dan serangan jantung.
2.       Takut.
Ini merupakan hambatan yang tersembunyi. Perasaan takut melakukan sesuatu seringkali membuat kita selalu mandek dalam mengerjakan sesuatu.
3.        Benci-diri.
Begitu banyak orang yang selalu menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak beres, alih-alih mencari tahu apa yang terjadi dan mengoreksi diri sendiri, malah tanpa sadar menghukum diri sendiri.
4.       Pesimisme.
Merasa tidak bisa sukses dan seringkali memberikan bukti dengan membeberkan kegagalan yang sering dialami.
5.        Kesan diri yang terbatas.
Kita mempunyai kebiasaan berpikir dalam keterbatasan. Kebiasaan ini seringkali mengganggu kita dalam melakukan sesuatu. Seringkali kita merasa tidak layak dalam mendapatkan sesuatu yang sesungguhnya baik bagi kita.

Dengan gaya yang sedikit berbeda, Harold H. Bloomfiled, menyebutkan lima jenis hambatan yang sering mengganjal kita, disertai kata hati yang terlintas:

1.      Saya takut disakiti lagi.
“Saya tidak tahu apakah saya bisa menjumpai orang yang benar”
“Ketika persahabatan menjadi serius, saya merasa khawatir”
“Saya khawatir ia akan menolak presentasi saya”

2.      Saat saya bercermin, saya tidak pernah puas.
“Saya berharap saya bisa lebih tinggi”
“Saya malu kalau audiens melihat jerawat saya ketika saya berbicara”
“Saya merasa tidak memiliki penampilan yang menarik”

3.      Saya tidak tahan kritikan.
“Saya selalu mencoba menyenangkan orang lain”
“Saya berharap orang-orang mengerti perasaan saya”
“Saya ingin selalu tampil sangat sempurna agar tidak ada yang mengetahui kelemahan saya”

4.      Saya selalu merasa tegang dan tergesa-gesa.
“Saya tidak bisa istirahat sampai semuanya berjalan mulus”
“Saya jadi marah kalau orang tidak menepati janjinya”
“Bahkan dalam liburan pun saya tidak pernah bisa santai”

5.      Saya harap saya bisa lebih bahagia.
“Apapun yang saya lakukan saya tidak pernah puas”
“Saya berhasil dalam pekerjaan saya tetapi saya ragu apakah ada perubahan dalam hidup saya”
“Saya kira saya lebih bahagia jika…………(sudah menikah, punya anak, mendapat pekerjaan, dll)


Hambatan Terbesar
Bagaimana bila ada seseorang sedemikian ngotot menghalangi anda mencapai sukses? Bagaimana bila orang itu juga yang selalu merintangi anda di setiap usaha? Bagaimana perasaan anda terhadap orang itu? Bagairnana kalau orang itu selalu muncul sarnbil membawa segudang alasan untuk rnenghalangi anda bertindak?
Bagaimana kalau ternyata orang itu adalah anda sendiri? Boleh jadi Ada kemungkinan, diri sendiri adalah musuh terbesar anda dalam rnenghalangi sukses dan kegemilangan. Pernahkah anda memergoki diri anda sendiri berkata “aku tidak mungkin melakukan itu”...? Tidakkah suara kecil itu juga yang selalu merintangi tujuan anda, dan membawa berjubel-jubel alasan bahwa ini-itu adalah mustahil?
Keterbatasan yang anda miliki memang meminta anda untuk membatasi diri. Tetapi keputusan tetap di tangan anda. Suara kecil itu silahkan bicara apa saja. Relakah anda dipenjara oleh keterbatasan? Tentu tidak. Bayangkan apa yang dapat anda capai bila anda 100% mendukung diri anda sendiri.
Nah silahkan berhenti berkhayal, dan mulailah ber-kehidupan
.
 Teruslah Bergerak
Tetaplah bergerak maju, sekalipun Iambat Karena dalam keadaan tetap bergerak, anda menciptakan kemajuan. Adalah jauh Iebih baik bergerak maju, sekalipun pelan, daripada tidak bergerak sama sekali.
Dalam hidup kita sering merasa buntu hanya karena kita ingin mengambil satu Iangkah yang terlalu besar, Iangkah raksasa. Akibatnya, masalah kita jadi terlihat besar sekali, kompleks dan tak terselesaikan. Hasilnya, anda hanya termenung dan tidak bergerak. Sabar dan coba mundur sebentar. Perhatikan tantangan anda.Tidakkah Iebih memungkinkan bagi anda untuk mengambil Iangkah-Iangkah pendek terus menerus, ketimbang berusaha menelan semua masalah sekaligus. Satu Iangkah kecil demi satu Iangkah kecil, asalkan anda tidak berhenti, adalah cukup, karena anda masih memiliki hari esok dan masih ingin bergerak maju. Dan bukan berhenti.

Anda adalah perahu kokoh yang sanggup menahan beban, terbuat dan kayu terbaik, dengan Iayar gagah menentang angin. Kesejatian anda adalah berlayar mengarungi samudra, menembus badai dan menemukan pantai harapan. Sehebat apapun perahu diciptakan. tak ada gunanya bila hanya tertambat di dermaga. Dermaga adalah masa lalu anda. Tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan anda. Jangan buang percuma seluruh daya kekuatan yang dianugerahkan pada anda. Jangan biarkan masa lalu menambat anda di situ. Lepaskan diri anda dari ketakutan dan penyesalan. Berlayarlah. Bekerjalah.
Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah yang menantang. Di situlah tanda kesejatian teruji. Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkarya menemukan kebahagiaan (baca).



8 komentar:

  1. Hemmmhhhh... mantap Om, saya ingat dulu waktu bantu orang buka usaha warnet banyaaaaaaaakkk... banget kendalanya, hampir-hampir gak jadi. Orang tersebut bilang "wah, jangan-jangan ini isyarat yang buruk nih buat usaha ini, banyak banget rintangannya, mana tempat udah dikontrak". Eh terus istrinya bilang, "kalau ini dianggap isyarat jelek, maka kita akan gagal untuk seterusnya, tapi kalau ini dianggap tantangan dan ujian Insya Allah berhasil". Dan benar apa yang dikatakan istrinya tersebut, usaha warnet tersebut kini alhamdulillah berjalan dengan sangat baik dan lancar. Allah memang Maha Pemurah dan Penyayang.... :-) Mantap Om, akan selalu dinanti kehadiran pencerahan-pencerahannya....

    BalasHapus
  2. @Rosid:
    Om Rosid thanks.
    Komennya Om rosid bisa jadi bahan tulisan yang mencerahkan tuh.

    Salam takzim.

    BalasHapus
  3. sangat inspiratif.. :)

    BalasHapus
  4. @Dea:
    terima kasih Mbak Dea sdh berkunjung kembali ke blog saya. Semoga bermanfaat.

    Salam takzim.

    BalasHapus
  5. Wah mantap mas.. terkadang kita sulit membedakan antara cobaan dan azab..


    Comment Q lari kemana ea.. waduh gpp dah... yang penting comentar.. hehehehehe

    menarik...

    BalasHapus
  6. @cemplymedia:
    Terimakasih sdh berkunjung, di tunggu kunjungan selanjutnya.

    Salam Takzim.

    BalasHapus
  7. @Opick Amikom:
    Terima kasih. Dengan penglihatan yang jernih insya Allah kita bisa memahami makna dan hikmah yang terkadung dalam setiap kejadian.

    Salam Takzim.

    BalasHapus

Pembaca yang BUDIMAN, Sudilah kiranya Anda meninggalkan pesan/komentar terkait artikel yang Anda baca, atau mengenai Blog ini. Terima kasih dan Salam Takzim.

Artikel Terkait