Minggu, 08 April 2012

Kritik dan Umpan Balik

Kritik atau istilah lainnya adalah umpan balik  merupakan suatu pesan  yang disampaikan oleh seseorang dalam komunikasinya dengan orang lain. Kita sendiripun sering tanpa sadar memberikan kritik dalam percakapan dengan orang lain. Pada umumnya kritik memang  cenderung tak ingin kita dengar. Kita biasanya akan merasa terganggu, sakit hati, atau bahkan bisa mengancam identitas kita. Karena itu, wajar jika kadang kala kritik  diabaikan oleh penerimanya.

Bahkan, kebanyakan kita tampaknya justru lebih bersikap defensif terhadap kritik, bahkan balik menyerang si pengkritik. Hal ini gampang kita jumpai, dan tontonan paling gamblang ya di televisi. Dalam pembelaan terhadap kritik ini, kita biasanya mengatakan," menjadikan kita kurang produktif dan mengurangi rasa percaya diri.


Para psikolog banyak yang mempunyai pandangan bahwa lebih baik banyak memuji  daripada mengkritik saja berkomunikasi dengan lingkungan sosial kita.  Namun, sebaiknya kita tetap perlu mempertimbangkan bagaimana memanfaatkan  dan caranya memberi kritik yang membangun, agar tak sampai terjadi masalah yang serius dan dapat merusak persahabatan dalam pergaulan atau relasi dalam pekerjaan.

“Feedback is sensory information that a person receives as a result of a response”. Umpan balik bersifat umum sebagai sensori informasi yang diterima seseorang sebagai hasil meresponnya. Umpan balik adalah pengetahuan yang diperoleh berkenaan dengan sesuatu tugas, perbuatan atau respons yang telah diberikan.  Umpan balik yang efektif, baik positif maupun negatif sangat membantu satu sama lainnya. Manakala Anda memberikan kritik (umpan balik), Anda memberikan informasi yang bernilai yang mana dapat digunakan oleh pihak lain mengenai bagaimana mereka berperilaku. Feedback membangun dan mempertahankan komunikasi serta menyediakan informasi yang dapat digunakan.

Sebagai ilustrasi…




Alkisah suatu ketika ada seorang pelukis yang baru saja tamat dari kursus melukis.  Dia menghabiskan waktu selama 3 hari untuk melukis pemandangan yang indah.  Dia ingin mengetahui apa pendapat khalayak ramai mengenai keterampilannya melukis. Dia meletakkan lukisannya itu di sebuah persimpangan jalan yang ramai.  Dan dia meletakkan papan dengan tulisan yang cukup besar di bawah lukisan itu, “Saya melukis pemandangan ini.  Karena saya masih baru dalam profesi ini, saya mungkin membuat beberapa kesalahan dalam coretan saya.  Tolong Anda menandai kesalahan yang Anda lihat dengan tanda silang.”

Ketika dia kembali di sore harinya untuk mengambil lukisannya, dia benar-benar terkejut dan hancur semangatnya melihat seluruh kanvasnya penuh coretan dan ada beberapa orang yang bahkan menuliskan komentarnya di lukisan tersebut.  Dengan patah semangat dan putus asa dia membawa lukisan itu ke rumah gurunya dan … menangis sedih. 

Artis muda ini dengan sulit berkata kepada gurunya, “Saya tidak berguna.  Semuanya sia-sia dan bila semua yang telah saya pelajari itu yang diperlukan untuk menjadi pelukis, saya tidak akan menjadi pelukis yang baik.  Masyarakat telah menolak saya mentah-mentah.  Saya merasa sepertinya lebih baik saya mati saja.”

Sang guru tersenyum dan berkata, “Anakku, aku akan membuktikan bahwa kamu adalah seniman yang hebat dan telah belajar melukis tanpa cacat.  Kerjakan apa yang kukatakan kepadamu tanpa bertanya.  Aku jamin.”  Walaupun enggan, seniman muda ini setuju.  Dua hari kemudian, di pagi hari dia membawa replica lukisan semula kepada gurunya.  Sang guru menerimanya dengan gembira dan tersenyum.  “Ayo, ikut aku,” kata gurunya.

Mereka sampai di persimpangan jalan yang sama, di pagi hari dan memamerkan lukisan itu di tempat yang sama.  Sang guru meletakkan papan bertuliskan, “Saudara-saudara, saya melukis pemandangan ini.  Oleh karena saya baru dalam profesi ini, saya mungkin telah melakukan beberapa kesalahan dalam goresan saya.  Saya menyediakan kotak berisi cat dan kuas di bawah.  Saya mohon bantuan Saudara.  Bila Saudara melihat ada kesalahan, silakan mengambil kuas dan mengoreksinya.”  Guru dan murid ini kemudian berjalan pulang.

Keduanya kembali ke tempat yang sama sore harinya.  Seniman muda ini tercengang melihat bahwa tidak satu koreksian pun yang telah dilakukan orang.  Mereka meletakkan lukisan itu di sana keesokan harinya dan di sore harinya tetap tidak ada orang yang mengoreksi.  Mereka melanjutkan aksi itu selama sebulan dan tetap tidak ada orang yang mengoreksi! 

Apa tanggapan Anda tentang ilustrasi di atas? Ya, kebanyakan kita hanya mampu mengkritik tanpa mampu memperbaiki. Sehausnya, kritik kita menjadi umpan balik yang membangun. Kritik, apabila diberikan dengan tepat, merupakan hal penting untuk bernegosiasi dan mencapai relasi sosial yang lebih baik. Seperti kita ketahui, pembelajaran yang kita peroleh dalam hidup sebagian besar terletak pada bagaimana kita mengenali, menganalisis, dan menerima kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Hal itu bisa kita dapatkan dari kritik yang kita terima dari orang lain.

Pada sebuah organisasi yang selalu berusaha untuk meningkatkan kinerjanya, umpan balik membantu untuk membuat penyesuaian yang diperlukan. Umpan balik berfungsi sebagai motivasi bagi banyak orang di tempat kerja. Ketika seseorang menerima umpan balik baik negatif atau positif, mereka harus memutuskan bagaimana akan menerapkannya secara personal atau pekerjaannya. Joseph Folkman mengatakan bahwa untuk menemukan tingkat terbesar keberhasilan dalam sebuah organisasi, bekerja dengan orang lain, seseorang harus belajar bagaimana menerima segala jenis umpan balik, menganalisisnya dengan cara yang se-positif mungkin, dan menggunakannya untuk memberi dampak pada keputusan lebih lanjut di masa mendatang.

Dalam bahasa umum istilah "umpan balik" dipahami sebagai "untuk mengkritik orang lain", seperti dalam "bos memberi saya umpan balik tentang presentasi saya."  Selanjutnya, "umpan balik positif" tidak berarti "pujian" dan "umpan balik negatif" tidak berarti "kritik". Umpan balik positif menunjukkan proses self-reinforcing, dan umpan balik negatif menunjukkan suatu koreksi (bisa berupa motivasi).  

Memberikan Kritik yang efektif

Bagaimana memberikan kritik yang efektif? Agustine Dwiputri, pengasuh Konsultasi Psikologi Kompas Minggu 8 April 2012, mengemukakan, Karen Wright (2011) memberikan 8 buah aturan untuk kritik yang efektif, yaitu:

  1. Selalu mulai dengan pertanyaan, misalnya, “Menurut kamu bagaimana kamu melakukannya?”  Cara demikian membuat penerima kritik merasa ikut memiliki masalah dan merasa dilibatkan.
  2. Jangan pernah memberikan kritik, kecuali jika diminta; umpan balik negatif yang tidak diinginkan hanya menimbulkan gangguan dan akan diabaikan.
  3. Pastikan Anda terlihat memiliki kewenangan untuk memberikan umpan balik yang korektif. Kritik dari seseorang yang dipandang sebagai tidak berwenang atau kurang kompeten akan menimbulkan resistensi dan perlawanan. Dalam hubungan dengan pasangan, paling tidak pemberi kritik adalah seorang yang dapat ditiru untuk perilaku yang dikritiknya.
  4. Bedakan kritik sebagai tuntutan untuk berubah yang merefleksikan kebutuhan kita atau merupakan kritik yang valid tentang bagaimana seseorang melakukan sesuatu. Jadi kita perlu memahami bahwa ucapan “Kau terlalu menuntut” sebenarnya berarti “Saya berharap saya merasa lebih diterima.”
  5. Jangan pernah memberikan umpan balik ketika Anda marah, kemarahan akan “mengasingkan” pendengarnya. Lebih produktif bila kita mengekspresikan kekecewaan.
  6. Kenali dengan siapa Anda bicara. Seorang yang sanga mencintai dirinya sendiri akan memandang setiap kritik sebagai serangan terhadap pribadinya, rasa tak aman akan meruntuhkan semua harga dirinya.
  7. Kenali juga diri sendiri.  Jika Anda relatif tidak sensitif terhadap kritik, kendalikan kecenderungan untuk menjadi canggung saat menyampaikannya.
  8. Lebih baik berharap munculnya sikap defensif sebagai respons pertama terhadap kritik. Sedangkan perubahan mungkin akan datang kemudian.


Anda sudah dapat memberikan kritik yang efektif. Silahkan memberikan kritik dan umpan balik.

Salam Takzim,
Bagus H. Jihad



5 komentar:

  1. Balasan
    1. Thanks Mas Kholis...
      Semoga bermanfaat...

      Hapus
  2. Thanks Mas Kholis...
    Semoga bermanfaat...

    BalasHapus
  3. Thanks om pelajaran tentang umpan baliknya, saya juga malah baru ngeh dari ilustrasi diatas, ternyata kalo mau mencoret, semua orang bisa, tapi kalo memperbaiki, jarang yang bisa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Ramy, inilah kita...
      Panda mengkritik tanpa mau dikritik.
      Memang sebagai generasi muda anda diharuskan kritis, tapi sebagai fungsi perbaikan.

      Janganlah seperti politikus kita yg mengkritisi tapi berbuat tidak lebih baik... dan malah kritik itu berbalik arah.

      Saya dinasehati: "Anda mempunyai dua telinga, berarti harus lebih banyak mendengar (termasuk kritik), dan hanya punya satu mulut"

      Thanks, Salam Takzim
      Bagus H. Jihad

      Hapus

Pembaca yang BUDIMAN, Sudilah kiranya Anda meninggalkan pesan/komentar terkait artikel yang Anda baca, atau mengenai Blog ini. Terima kasih dan Salam Takzim.

Artikel Terkait