Selasa, 31 Januari 2012

Re-Do Resolusi

Hari ini tepat tanggal 31 Januari. Ini berarti sebulan sudah kita tinggalkan tahun yang lalu. Banyak peristiwa yang terjadi, baik secara individu, kelompok, organisasi, masyarakat secara lokal, regional bahkan Internasional. Ada yang menyenangkan dan ada yang mengharu biru. Semuanya terangkai dalam sebuah kaleidoskop untuk menyambut tahun mendatang.

Masih hangat dalam ingatan bagaimana gelombang perayaan pergantian tahun di seluruh dunia, jutaan orang mungkin bersumpah untuk menendang kebiasaan buruk dan menguburnya serta bersumpah memperbaiki diri dalam upaya untuk membuat tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Hmmmm?


Pesta pora yg meriah dan membuat resolusi menjadi penting  menjelang denting Tahun Baru sejak tahun 2000 SM, ketika itu masyarakat di Babylonia sering mengadakan perayaan semi-tahunan. Pada saat itu orang-orang menandai awal Tahun Baru dengan membayar hutang dan mengembalikan barang yang dipinjam. Praktek ini terbawa sampai ke zaman Romawi dimana para pekerja membuat resolusi untuk berperilaku yang baik dihadapan seorang dewa berwajah ganda bernama Janus, Dewa awal dan akhir. Ketika kalender Romawi direformasi, bulan pertama tahun ini diubah namanya untuk menghormati Januari Janus. Itulah mengapa  1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun yang baru.

Kita pun lantas ikut-ikutan membuat resolusi, misalnya akan melakukan perbuatan baik, akan melakukan pola makan sehat, akan menghemat uang, atau akan menjadi lebih terorganisir. Tapi perubahan seperti ini tidaklah mudah, terutama ketika mencoba untuk memenuhi tujuan-tujuan yang tidak jelas tersebut. Kenapa saya katakana tidak jelas, karena tidak ada target yang nyata. Dan karena resolusi itu dibuat sesaat tanpa perencanaan. Inilah yang menjadikan, mengapa kegagalan menjalankan resolusi tahun baru yang dibuat, meningkat dari tahun ke tahun.

Sebuah studi di University of Washington pada tahun 1997, dimana mereka mendapatkan data bahwa  47 % dari 100 juta orang Amerika dewasa yang membuat resolusi menyerah pada tujuan mereka setelah dua bulan. Angka ini tumbuh 80 persen dalam dekade terakhir, menurut penelitian baru-baru yang digagas oleh University of Minnesota.

Resolusi Terbanyak di Tahun 2012

Sebuah survey yang dilakukan oleh http://www.43things.com/ mendapatkan kesimpulan mengenai resolusi yang paling banyak dinyatakan oleh responden di tahun 2012. Tapi apakah ini juga mewakili Anda, hanya Anda yang tahu, inilah urutannya.
  1. Menurunkan berat badan,
  2. Membaca paling tidak satu buku setiap bulan,
  3. Mencatat saat-saat yang mengagumkan,
  4. Makan, minum, belajar, atau mencoba sesuatu yang baru,
  5. Cukup tidur,
  6. Lebih banyak berolah raga, misalnya lari 5 atau 10 km,
  7. Mencari duit sendiri,
  8. Lebih banyak membaca,
  9. Lebih memperhatikan gaya dan penampilan,
  10. Menyanyi sekuat tenaga setidaknya seminggu sekali,
Resolusi Dari Tahun ke Tahun

Daftar tersebut di atas nampaknya berulang dari tahun ke tahun, sebagaimana data yang tertera pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut Nampak bahwa menurunkan berat badan merupakan resolusi yang banyak dinyatakan oleh responden. Jika resolusi Anda hanya berbentuk seperti ini, tanpa ada perencanaan dan langkah-langkah untuk mencapainya, mungkin Anda akan termasuk 47% (menurut universitas Washington) atau 80% (menurut Universitas Minnesota) yang gagal mewujudkan resolusi di tahun ini !


Re-Do Resolusi Anda

Seperti yang sudah dibahas dalam artikel sebelumnya “Jangan Membuat Resolusi ”. Ada tiga jangan sebagai pesan, yaitu:
  • ·    Jangan membuat resolusi, bila Anda tak berani menerima tantangan
  • ·    Jangan membuat resolusi, bila tekad Anda hanya setengah-setengah.
  • ·    Jangan membuat resolusi, jika Anda masih berpikir untuk membuat resolusi yang sama di tahun yang akan datang.
Sekarang bila ditanyakan kepada Anda,”Sampai dimana Resolusi yang Anda buat?” Sudahkan ada yang berhasil Anda penuhi, atau malah Anda sudah gagal justru dibulan pertama ini. Tapi Mas Bro, Mbak Sis, sekalian, masih ada 11 bulan perjalanan. Masih ada waktu! Bergantung bagaimana Anda melihatnya. Seperti ketika Anda melihat air di sebuah gelas.  Apakah “Gelas terisi setengah” atau “Gelas kosong setengah”. Mengetahui apa yang Anda inginkan membuat lebih mudah untuk mendapatkannya. 

“The tragedy of life doesn’t lie in not reaching your goal. The tragedy lies in having no goal to reach for.
It isn’t a calamity to die with dreams unfilled, but it is a calamity not to dream.
It is not a disgrace to not reach the stars, but it is a disgrace to have no stars to reach for.
Not failure, but low aim, is a sin.” (Dr. Benjamin Elijah Mays)

Karena Anda menganggap masih ada waktu, maka ayo kita perbaiki resolusi itu. Pastikan bahwa resolusi Anda STARR:
  1. Spesifik. Tujuan yang baik harus yang spesifik, dinyatakan dengan tegas apa yang dibutuhkan agar terjadi, apa hasil yang diharapkan
  2. Terukur (Measurable).  Tujuan yang baik dapat secara obyektif dievaluasi, mana yang telah tercapai dan mana yang belum.
  3. Attainable/Achievable. Tujuan Anda harus menjejak, harus dapat dikukur dengan kemauan dan kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan yang Anda miliki. Dengan demikian Anda akan mampu untuk mencapainya.
  4. Realistis, Tujuan yang baik adalah, sesuatu yang Anda percaya dapat diraih dan dikerjakan.
  5. Rentang.  Tujuan yang baik harus dinyatakan dalam waktu yang spesifik (sebagai deadline). Ingatlah bahwa menuliskan tanggal mulai dan akhir adalah jauh lebih baik (missal 1 Februari – 15 Maret 2012), daripada sekedar menuliskan “1 bulan” atau “1 tahun”
Ketika Anda sudah berhasil menset-up tujuan, Hargai diri Anda sendiri dengan segera beraksi. Lakukan langkah-langkah spesifik (walau sangat kecil) segera untuk menjemput sukses Anda. Semoga Sukses.


Salam Takzim,
Bagus H. Jihad





8 komentar:

  1. Balasan
    1. Begitu ya?
      Its nice Sis/Bro!

      Salam Takzim.

      Hapus
  2. Mencari duit sendir ada di urutan ke-7? :D
    Saya kira ada di urutan 1 :D
    Btw, menurunkan berat badan ada di posisi 1, kalo menaikkan berat badan ada di posisi berapa ya? Hihihiih... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,mungkin maksudnya adalah mereka2 yang sudah mulai ingin mandiri dan mencoba berusaha mencari duit sendiri, tdk bergantung pada ortu, walaupun masih dalam tanggungannya.

      Bener, ada nggak ya, yg punya resolusi menaikkan berat badan?

      Salam Takzim,
      Bagus H. Jihad

      Hapus
  3. aaq juga punya mslh dengn berat badan......hadeh,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, berdasarkan rumus, maka berat badan saya kelebihan 10 KG. Tapi saya tdk berencana untuk itu.

      Salam Takzim,
      Mimpi Siang Bolong

      Hapus
  4. menjadikan blogcepot jd do-follow itu gmn yah om, mohon penjerahanya ?

    trmksh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau untuk itu, Anda harus tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan no-follow dan do-follow serta keuntungan dan kerugiannya.

      Maaf tidak bisa saya jelaskan secara rinci disini, bagaimana caranya untuk menjadikannya do-follow. Yang pasti, bila Anda pertama kali membuat blog (khususnya blogspo) pastilah no-folllow.

      Anda dapat mencarinya bersama Mbah Google, orangnya baik kok, pasti dia mau membantu.

      Salam TAkzim,
      Bagus H. Jihad

      Hapus

Pembaca yang BUDIMAN, Sudilah kiranya Anda meninggalkan pesan/komentar terkait artikel yang Anda baca, atau mengenai Blog ini. Terima kasih dan Salam Takzim.

Artikel Terkait